Author: admin
Sunday, July 04th, 2010

kanker serviks
Kanker serviks atau kanker leher rahim terjadi di bagian organ reproduksi seorang wanita. Leher rahim adalah bagian yang sempit di sebelah bawah antara vagina dan rahim seorang wanita. Di bagian inilah tempat terjadi dan tumbuhnya kanker serviks. Apa penyebab kanker serviks atau kanker leher rahim? Bagaimana cara pencegahannya? Serta bagaimana cara mengatasinya jika sudah terinfeksi HPV?

HPV
Kanker serviks disebabkan infeksi virus HPV (human papillomavirus) atau virus papiloma manusia. HPV menimbulkan kutil pada pria maupun wanita, termasuk kutil pada kelamin, yang disebut kondiloma akuminatum. Hanya beberapa saja dari ratusan varian HPV yang dapat menyebabkan kanker. Kanker serviks atau kanker leher rahim bisa terjadi jika terjadi infeksi yang tidak sembuh-sembuh untuk waktu lama. Sebaliknya, kebanyakan infeksi HPV akan hilang sendiri, teratasi oleh sistem kekebalan tubuh.Kanker serviks menyerang daerah leher rahim atau serviks yang disebabkan infeksi virus HPV (human papillomavirus) yang tidak sembuh dalam waktu lama. Jika kekebalan tubuh berkurang, maka infeksi HPV akan mengganas dan bisa menyebabkan terjadinya kanker serviks. Gejalanya tidak terlalu kelihatan pada stadium dini, itulah sebabnya kanker serviks yang dimulai dari infeksi HPV dianggap sebagai “The Silent Killer”.

Gejala dan penyebab kanker serviks
Beberapa gejala bisa diamati meski tidak selalu menjadi petunjuk infeksi HPV. Keputihan atau mengeluarkan sedikit darah setelah melakukan hubungan intim adalah sedikit tanda gejala dari kanker ini. Selain itu, adanya cairan kekuningan yang berbau di area genital juga bisa menjadi petunjuk infeksi HPV. Virus ini dapat menular dari seorang penderita kepada orang lain dan menginfeksi orang tersebut. Penularannya dapat melalui kontak langsung dan karena hubungan seks.

Ketika terdapat virus ini pada tangan seseorang, lalu menyentuh daerah genital, virus ini akan berpindah dan dapat menginfeksi daerah serviks atau leher rahim Anda. Cara penularan lain adalah di closet pada WC umum yang sudah terkontaminasi virus ini. Seorang penderita kanker ini mungkin menggunakan closet, virus HPV yang terdapat pada penderita berpindah ke closet. Bila Anda menggunakannya tanpa membersihkannya, bisa saja virus kemudian berpindah ke daerah genital Anda.

Buruknya gaya hidup seseorang dapat menjadi penunjang meningkatnya jumlah penderita kanker ini. Kebiasaan merokok, kurang mengkonsumsi vitamin C, vitamin E dan asam folat dapat menjadi penyebabnya. Jika mengkonsumsi makanan bergizi akan membuat daya tahan tubuh meningkat dan dapat mengusir virus HPV.

Risiko menderita kanker serviks adalah wanita yang aktif berhubungan seks sejak usia sangat dini, yang sering berganti pasangan seks, atau yang berhubungan seks dengan pria yang suka berganti pasangan. Faktor penyebab lainnya adalah menggunakan pil KB dalam jangka waktu lama atau berasal dari keluarga yang memiliki riwayat penyakit kanker.

Sering kali, pria yang tidak menunjukkan gejala terinfeksi HPV itulah yang menularkannya kepada pasangannya. Seorang pria yang melakukan hubungan seks dengan seorang wanita yang menderita kanker serviks, akan menjadi media pembawa virus ini. Selanjutnya, saat pria ini melakukan hubungan seks dengan istrinya, virus tadi dapat berpindah kepada istrinya dan menginfeksinya.

Salah satu cara yang lain untuk mencegah kanker serviks adalah dengan memakai pantiliner dan pembalut Avail. Karena didalam nya mengandung 17 jenis herbal yang bermanfaat bagi organ reproduksi wanita. Diantara bahan herbal tersebut ada mengandung bahan yang dapat membantu membunuh bakteri, mencegah bakteri, virus dan kuman. menghilangkan bau dan mencegah infeksi yang di sebabkan oleh bakteri. Dengan memakai pantiliner dan pembalut Avail, wanita akan merasa nyaman dan higenis sepanjang hari,Apalagi wanita saat ini banyak menghabiskan waktu di luar rumah seperti bekerja kantoran, belanja di mall dll, sehingga kemungkinan terinfeksi virus di toilet umum lebih besar.

Author: admin
Friday, June 11th, 2010

Imunisasi adalah salah satu cerita sukses upaya kesehatan masyarakat pada abad ke-20. Mulai dari eradikasi cacar pada tahun 1977 hingga hampir terbasminya polio saat ini. Sejak perluasan program imunisasi tahun 1974, kematian akibat difteri, campak, batuk rejan, dan tetanus menurun tajam.

Apa yang dikemukakan Yang Baoping, Penasihat Perluasan Program Imunisasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Wilayah Pasifik Barat, dalam pembukaan ”The First Symposium on Human Papillomavirus Vaccination” yang berlangsung di Seoul, Korea Selatan, 1-2 Juni lalu, itu merujuk pada paradigma kesehatan masyarakat: mencegah lebih baik daripada mengobati.

Simposium yang dihadiri pakar kesehatan dari negara-negara di Asia Pasifik dan Timur Tengah itu diselenggarakan oleh International Vaccine Institute (IVI) bekerja sama dengan The Program for Appropriate Technology in Health (PATH) dan WHO. IVI, organisasi internasional yang berbasis di Seoul, Korea Selatan, bergerak di bidang penelitian vaksin untuk kesehatan masyarakat, terutama bagi penduduk negara berkembang.

Belakangan ini makin banyak industri farmasi mendaftarkan sejumlah vaksin yang aman dan efektif. Vaksin-vaksin tersebut antara lain untuk melawan bakteri Streptococcus pneumoniae yang menyebabkan radang paru sampai meningitis, bakteri Haemophilus influenzae type b penyebab penyakit sama, rotavirus penyebab diare, dan yang terbaru adalah human papillomavirus (HPV) penyebab kanker serviks (mulut rahim).

Menurut data WHO, kanker serviks merupakan kanker nomor dua terbanyak pada perempuan berusia 15-45 tahun setelah kanker payudara. Tak kurang dari 500.000 kasus baru dengan kematian 280.000 penderita terjadi tiap tahun di seluruh dunia. Bisa dikatakan, setiap dua menit seorang perempuan meninggal akibat kanker serviks.

Di wilayah Asia Pasifik dan Timur Tengah ada 1,3 miliar perempuan berusia 13 tahun ke atas yang berisiko terkena kanker serviks. WHO memperkirakan, ada lebih dari 265.000 kasus kanker serviks dengan kematian 140.000 penderita tiap tahun di wilayah ini.

Dalam presentasi Dr F Xavier Bosch, Ketua Program Penelitian Epidemi Kanker dari Institut Onkologi Catalonia, Spanyol, berdasarkan data dari WHO/ICO Information Centre on HPV and Cervical Cancer 2002, Indonesia mencatat 15.050 kasus baru dengan kematian 7.566 penderita per tahun.

Sejumlah negara telah memasukkan vaksin HPV dalam program imunisasi nasional, seperti Australia serta sejumlah negara di Eropa. Data 2007 di Australia menunjukkan ada 835 kasus dengan kematian 249 orang. Jumlah kasus itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan Indonesia karena deteksi dini sudah berjalan sehingga kasus bisa diatasi sejak awal.

Adapun penggunaan vaksin HPV di negara berkembang, menurut Yang Baoping, perlu waktu akibat hambatan dana dan manajemen program. Harga vaksin sebesar 50-100 dollar AS per dosis masih dirasa mahal bagi negara berkembang.

Masalah keterjangkauan vaksin, demikian Hugues Bogaerts, Vice President dan Direktur Medis GSK Biologicals, diatasi dengan penerapan mekanisme harga bertingkat (tier price). Artinya, negara yang mampu membayar lebih mahal, sedangkan negara yang kurang mampu membayar lebih murah. Adapun negara yang benar-benar tidak mampu akan dibantu oleh lembaga internasional, seperti The Global Alliance for Vaccines and Immunization (GAVI).

Menurut Prof Dr dr Sri Rezeki S Hadinegoro SpA(K), Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang juga Ketua Indonesian Technical Advisory Group of Immunization serta President of Asia Society of Pediatric Infectious Disease, di Indonesia kanker serviks menjadi penyebab kematian utama di antara kanker pada perempuan. Vaksin ini memang belum masuk program nasional imunisasi, tetapi Satgas Imunisasi IDAI merekomendasikan untuk memberikan vaksin HPV pada remaja perempuan sejak usia 10 tahun. Hal itu dicantumkan pada Jadwal Imunisasi IDAI 2008.

Deputi Menteri Kesehatan Korsel Dr Jong-Koo Lee menyatakan, ada sekitar 4.000 kasus kanker serviks per tahun di Korsel. Diperkirakan negara itu menghabiskan 92 juta dollar AS untuk merawat penderita kanker serviks per tahun.

Rekomendasi

Menurut Prof Kyung Seo dari Department of Obstetrics and Gynecology Yonsei University College of Medicine, Korean Society Gynecologic Oncology & Colposcopy, merekomendasikan pemberian vaksin HPV pada usia 15-17 tahun dan catch up (susulan) pada usia 18-26 tahun. Adapun Korean Pediatric Society merekomendasikan pada 11-12 tahun dan susulan pada 13-18 tahun.

Dr Linda Eckert dari WHO menyatakan, WHO melihat pentingnya kanker serviks dan penyakit terkait HPV lain sebagai masalah kesehatan masyarakat global. Karena itu, WHO merekomendasikan untuk memasukkan vaksin HPV dalam program imunisasi nasional untuk mencegah kanker serviks, menjadikan sebagai prioritas kesehatan masyarakat, membuat penggunaan vaksin terjangkau, menjamin keberlangsungan pembiayaan, dan mempertimbangkan strategi efektivitas pembiayaan imunisasi di negara terkait.

Pada akhir simposium para pakar dan tokoh kesehatan dari pelbagai negara di wilayah Asia Pasifik dan Timur Tengah itu menyerukan agar seluruh negara dan para pemimpinnya, lembaga internasional, dan aktivis kemanusiaan mendukung strategi komprehensif dalam mencegah kanker serviks serta menyediakan biaya untuk menjamin akses vaksin HPV untuk setiap negara di wilayah Asia Pasifik dan Timur Tengah yang berniat menerapkan vaksin bagi penduduknya.

Mereka meminta para tokoh di bidang kesehatan, ilmu pengetahuan, dan tokoh masyarakat untuk memerhatikan beban yang ditimbulkan kanker serviks, berupaya mencegah, serta melakukan penelitian untuk upaya pencegahan.

Para produsen vaksin diharapkan terus mengembangkan vaksin yang efektif dan mempertimbangkan keterjangkauan harga vaksin HPV bagi negara berkembang. Semua pihak diminta bekerja sama untuk memastikan vaksin dan deteksi dini kanker serviks dapat diperoleh dengan harga terjangkau dan berkesinambungan.

Dalam hal ini, keberhasilan mencegah kanker serviks memerlukan komitmen dan kemauan politik. Untuk itu tindakan harus dimulai sekarang juga.

Oleh : Atika Walujani Moedjiono

Setelah saya membaca artikel ini di koran kompas, membuat saya ingin berbagi informasi kepada pengunjung blog saya mengenai kesehatan prempuan terutama alat reproduksi wanita. Di mana di kata kan bahwa di Indonesia penyebab kematian utama pada perempuan adalah kanker serviks sedang kan di dunia kanker serviks merupa kan penyebab kan kematian ke 2 setelah kanker payudara. Untuk itu mari lah kita jaga alat reproduksi kita agar terhindar dari resiko penyakit kanker serviks. Salah satu cara agar terhindar dari kanker serviks adalah dengan memakai pembalut berkualitas yaitu pembalut yang bebas dioxin dan pemutih dan juga menghindari sex bebas di kalangan remaja dan setia lah hanya pada satu pasangan.

Author: admin
Thursday, May 13th, 2010

Mengapa wanita sekarang mudah terjangkit penyakit infeksi jamur dan bakteri pada organ kewanitaan nya ?

Wanita jaman sekarang banyak mengalami keputihan, gatal-gatal, bau tidak sedap dll.ini semua di sebabkan banyak nya bakteri yang ditemukan pada pada pembalut wanita yang tidak berkualitas.

Sebagaimana diketahui pembalut wanita adalah produk sekali pakai.Karena itulah para produsen mendaur ulang bahan baku kertas bekas dan pulp dan menjadikan nya bahan dasar untuk menghemat biaya produksi.

Dalam proses daur ulang, banyak bahan kimia digunakan untuk proses pemutihan kembali, menghilangkan bau dan proses sterillisasi kuman-kuman pada kertas bekas.Sehingga pembalut yang dihasilkan banyak mengandung zat dioxin yang berbahaya bagi manusia. Serta tidak dijamin sterilisasai nya ( masih mengandung bakteri ). Kondisi inlah yang menyebabkan terjadi nya gangguan terhadap organ reproduksi wanita.
Kertas Bekas

The Tampon Safety and Research Act of 1999,H.R.890 USA 1999 (Kongres tentang Penelitian dan keamanan Tampon di Amerika Serikat tahun 1999) menyatakan bahwa zat dioxin dan serat sintetis yang terkandung dalam pembalut wanita dan produk sejenis, berisiko tingi terhadap kesehatan wanita, termasuk risiko terhadap :kanker servicks, endometriosis, kanker ovarium, kanker payudara, penurunan sistem kekebalan tubuh, radang servicks dan lain-lain.

Para ahli kanker Internasional, serta Badan Kesehatan Dunia menyatakan bahwa Zat Dioxin dapat menyebabkan kanker.

Zat dioxin adalah sebuah hasil sampingan dari proses bleaching (pemutihan) yang digunakan pada pabrik pembalut wanita, tissue, sanitary pad dan diapers.

Bagaimana zat dioxin bisa meresap ke dalam rahim?

Bila darah haid jatuh ke permukaan pembalut, zat dioxin akan dilepaskan melaui proses penguapan. Pertama kan mengenai permukaan vagina, kemudian diserap kedalam rahim melalui serviks, lalu masuk ke uterus, melalui tuba fallopi dan berakhir di ovarium.

Banyak wanita terjangkit infeksi vagina disebabkan penggunaan pembalut yang tidak berkualitas. Jika seorang wanita terjangkit infeksi vagina sejak usia 20 tahun , maka sedikit nya 6 tahun hidup nya akan dihabiskan untuk pengobatan dan perawatan infeksi nya

.

Author: admin
Sunday, January 17th, 2010

Tentu anda sudah tak asing lagi dengan istilah kanker servik (Cervical Cancer), atau kanker pada leher rahim. Benar, sesuai dengan namanya, kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina). Kanker ini biasanya terjadi pada wanita yang telah berumur, tetapi bukti statistik menunjukan bahwa kanker leher rahim dapat juga menyerang wanita yang berumur antara 20 sampai 30 tahun.
Memang istilah “kanker” sendiri sudah pasti memberi kesan menakutkan dan menyeramkan. Laksana seorang terpidana menerima hukuman mati.

Bagaimana pula dengan kanker leher rahim?
Apakah juga sama menakutkannya dengan beberapa kanker lainnya?
Menurut para ahli kanker, kanker leher rahim adalah salah satu jenis kanker yang paling dapat dicegah dan paling dapat disembuhkan dari semua kasus kanker. Tetapi, biarpun demikian, di wilayah Australia barat saja, tercatat sebanyak 85 orang wanita didiagnosa positif terhadap kanker leher rahim setiap tahun. Dan pada tahun 1993 saja, 40 wanita telah tewas menjadi korban keganasan kanker ini.

Bagaimanakah kanker leher rahim terjadi?
Layaknya semua kanker, kanker leher rahim terjadi ditandai dengan adanya pertumbuhan sel-sel pada leher rahim yang tidak lazim (abnormal). Tetapi sebelum sel-sel tersebut menjadi sel-sel kanker, terjadi beberapa perubahan yang dialami oleh sel-sel tersebut. Perubahan sel-sel tersebut biasanya memakan waktu sampai bertahun-tahun sebelum sel-sel tadi berubah menjadi sel-sel kanker. Selama jeda tersebut, pengobatan yang tepat akan segera dapat menghentikan sel-sel yang abnormal tersebut sebelum berubah menjadi sel kanker. Sel-sel yang abnormal tersebut dapat dideteksi kehadirannya dengan suatu test yang disebut “Pap smear test“, sehingga semakin dini sel-sel abnormal tadi terdeteksi, semakin rendahlah resiko seseorang menderita kanker leher rahim.
Memang Pap smear test adalah suatu test yang aman dan murah dan telah dipakai bertahun-tahun lamanya untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang terjadi pada sel-sel leher rahim. Test ini ditemukan pertama kali oleh Dr. George Papanicolou, sehingga dinamakan Pap smear test. Pap smear test adalah suatu metode pemeriksaan sel-sel yang diambil dari leher rahim dan kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi dari sel tersebut. Perubahan sel-sel leher rahim yang terdeteksi secara dini akan memungkinkan beberapa tindakan pengobatan diambil sebelum sel-sel tersebut dapat berkembang menjadi sel kanker.
Test ini hanya memerlukan waktu beberapa menit saja. Dalam keadaan berbaring terlentang, sebuah alat yang dinamakan spekulum akan dimasukan kedalam liang senggama. Alat ini berfungsi untuk membuka dan menahan dinding vagina supaya tetap terbuka, sehingga memungkinkan pandangan yang bebas dan leher rahim terlihat dengan jelas. Sel-sel leher rahim kemudian diambil dengan cara mengusap leher rahim dengan sebuah alat yang dinamakan spatula, suatu alat yang menyerupai tangkai pada es krim, dan usapan tersebut dioleskan pada obyek-glass, dan kemudian dikirim ke laboratorium patologi untuk pemeriksaan yang lebih teliti.
Prosedur pemeriksaan Pap smear test mungkin sangat tidak menyenangkan untuk anda, tetapi tidak akan menimbulkan rasa sakit. Mungkin anda lebih memilih dokter wanita untuk prosedur ini, tetapi pada umumnya para dokter umum dan klinik Keluarga Berencana dapat dimintai bantuan untuk pemeriksaan Pap smear test. Usahakanlah melakukan Pap smear test ini pada waktu seminggu atau dua minggu setelah berakhirnya masa menstruasi anda. Jika anda sudah mati haid, Pap smear test dapat anda lakukan kapan saja. Tetapi jika kandung rahim dan leher rahim telah diangkat atau dioperasi (hysterectomy atau operasi pengangkatan kandung rahim dan leher rahim), anda tidak perlu lagi melakukan Pap smear test karena anda sudah terbebas dari resiko menderita kanker leher rahim. Pap smear test biasanya dilakukan setiap dua tahun sekali, dan lebih baik dilakukan secara teratur. Hal yang harus selalu diingat adalah tidak ada kata terlambat untuk melakukan Pap smear test. Pap smear test selalu diperlukan biarpun anda tidak lagi melakukan aktifitas seksual.

Bagaimanakah Tanda-tanda Kanker Serviks?
Perubahan awal yang terjadi pada sel leher rahim tidak selalu merupakan suatu tanda-tanda kanker. Pemeriksaan Pap smear test yang teratur sangat diperlukan untuk mengetahui lebih dini adanya perubahan awal dari sel-sel kanker. Perubahan sel-sel kanker selanjutnya dapat menyebabkan perdarahan setelah aktivitas sexual atau diantara masa menstruasi.
Jika anda mendapatkan tanda-tanda tersebut, sebaiknya anda segera melakukan pemeriksaan ke dokter. Adanya perubahan ataupun keluarnya cairan (discharge) ini bukanlah suatu hal yang normal, dan pemeriksaan yang teliti harus segera dilakukan walaupun anda baru saja melakukan Pap smear test. Biarpun begitu, pada umumnya, setelah dilakukan pemeriksaan yang teliti, hasilnya tidak selalu positip kanker.

Pengobatan
Seperti pada kejadian penyakit yang lain, jika perubahan awal dapat dideteksi seawal mungkin, tindakan pengobatan dapat diberikan sedini mungkin. Jika perubahan awal telah diketahui pengobatan yang umum diberikan adalah dengan:

  1. Pemanasan, diathermy atau dengan sinar laser.
  2. Cone biopsi, yaitu dengan cara mengambil sedikit dari sel-sel leher rahim, termasuk sel yang mengalami perubahan. Tindakan ini memungkinkan pemeriksaan yang lebih teliti untuk memastikan adanya sel-sel yang mengalami perubahan. Pemeriksaan ini dapat dilakukan oleh ahli kandungan.

Jika perjalanan penyakit telah sampai pada tahap pre-kanker, dan kanker leher rahim telah dapat diidentifikasi, maka untuk penyembuhan, beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:

  1. Operasi, yaitu dengan mengambil daerah yang terserang kanker, biasanya uterus beserta leher rahimnya.
  2. Radioterapi yaitu dengan menggunakan sinar X berkekuatan tinggi yang dapat dilakukan secara internal maupun eksternal.

Resiko untuk terserang kanker:
Setiap wanita yang pernah melakukan hubungan seksual mempunyai resiko terhadap kanker leher rahim. Sel-sel leher rahim mungkin mengalami perubahan sehingga sangat diperlukan melakukan Pap smear test secara teratur (baik yang telah ataupun yang belum pernah mendapatkan Pap smear test). Demikian juga bagi anda yang merokok kemungkinan untuk mendapatkan kanker leher rahim sangat besar.
Dijumpainya Human Papilloma Virus (HPV) sering diduga sebagai penyebab terjadinya perubahan yang abnormal dari sel-sel leher rahim.
Memiliki pasangan seksual yang berganti-ganti atau memulai aktifitas seksual pada usia yang sangat muda juga memperbesar resiko kemungkinan mendapat kanker leher rahim.
Apa yang harus anda lakukan untuk menghindari kanker leher rahim ?
Yang pertama, jika anda pernah melakukan hubungan seksual anda harus melakukan Pap smear test secara teratur setiap dua tahun dan ini dilakukan sampai anda berusia 70 tahun. Pada beberapa kasus mungkin dokter menyarankan untuk melakukan Pap smear test lebih sering.
Hal yang ke dua adalah melaporkan adanya gejala-gejala yang tidak normal seperti adanya perdarahan, terutama setelah coitus (senggama).
Hal yang ke tiga adalah tidak merokok. Data statistik melaporkan bahwa resiko terserang kanker leher rahim akan menjadi lebih tinggi jika wanita merokok.
Dengan melakukan beberapa tindakan yang dapat memperkecil resiko tersebut, mudah-mudahan kita dijauhkan dari kejadian kanker leher rahim ini. Semoga.
Dapatkah anda membayangkan, bagaimanakah perasaan anda jika mengetahui hasil pemeriksaan ‘Pap Smear’ anda memberikan hasil abnormal? Tentulah anda akan merasa kuatir dan cemas, manakala anda mendapati bahwa hasil pemeriksaan ‘Pap Smear’ anda abnormal. Tetapi janganlah terlalu cemas dahulu, karena tidak semua penampakan sel-sel yang abnormal tersebut berarti kanker. Memang ‘Pap Smear’ dapat mendeteksi kelainan-kelainan perubahan sel-sel leher rahim secara dini. Paradigma yang harus diingat adalah semakin awal ditemukannya kelainan-kelainan pada pemeriksaan ‘Pap Smear’, maka akan semakin mudah pula diatasi masalahnya.
Apakah artinya jika ‘Pap Smear’ anda abnormal.
Hasil ‘Pap Smear’ dikatakan abnormal jika sel-sel yang berasal dari leher rahim anda ketika diperiksa di bawah mikroskop akan memberikan penampakan yang berbeda dengan sel normal. Kejadian ini biasanya terjadi 1 dari 10 pemeriksaan ‘Pap Smear’. Beberapa faktor yang dapat memberikan indikasi diketemukannya penampakan ‘Pap Smear’ yang abnormal adalah:

  1. Unsatisfactory ‘Pap Smear’
    Pada kasus ini, berarti pegawai di Lab tersebut tidak bisa melihat sel-sel leher rahims anda dengan detail sehingga gagal untuk membuat suatu laporan yang komprehensive kepada dokter anda. Jika kasus ini menimpa anda sebaiknya anda datang lagi untuk pemeriksaan ‘Pap Smear’ pada waktu yang akan ditentukan oleh dokter anda.
  2. Jika ada infeksi atau inflamasi
    Kadang-kadang pada pemeriksaan ‘Pap Smear’ memberikan penampakan terjadinya inflamasi. Ini berarti bahwa sel-sel di dalam leher rahims mengalami suatu iritasi yang ringan sifatnya. Memang kadang-kadang inflamasi dapat kita deteksi melalui pemeriksaan ‘Pap Smear’, biarpun kita tidak merasakan keluhan-keluhan karena tidak terasanya gejala klinis yang ditimbulkannya. Sebabnya bermacam-macam. Mungkin telah terjadi infeksi yang dikarenakan oleh bakteri, atau karena jamur’. Konsultasikan dengan dokter anda mengenai masalah ini beserta pengobatannya jika diperlukan. Tanyakan kapan anda harus menjalani ‘Pap Smear’ lagi.
  3. Atypia atau Minor Atypia
    Yang dimaksud dengan keadaan ini adalah jika pada pemeriksaan ‘Pap Smear’ terdeteksi perubahan-perubahan sel-sel leher rahims, tetapi sangat minor dan penyebabnya tidak jelas. Pada kasus ini, biasanya hasilnya dilaporkan sebagai ‘atypia’. Biasanya terjadinya perubahan penampakan sel-sel tersebut dikarenakan adanya peradangan, tetapi tidak jarang pula karena infeksi virus. Karena untuk membuat suatu diagnosa yang definitif tidak memungkinkan pada tahap ini, dokter anda mungkin akan merekomendasikan anda untuk menjalani pemeriksaan lagi dalam waktu enam bulan. Pada umumnya, sel-sel tersebut akan kembali menjadi normal lagi. Jadi, adalah sangat penting bagi anda untuk melakukan ‘Pap Smear’ lagi untuk memastikan bahwa kelainan-kelainan yang tampak pada pemeriksaan pertama tersebut adalah gangguan yang tidak serius. Jika hasil pemeriksaan menghasilkan hasil yang sama maka anda mungkin disarankan untuk menjalani kolposkopi.

Apakah kolposkopi itu?
Kolposkopi adalah suatu prosedur pemeriksaan vagina dan leher rahim oleh seorang dokter yang berpengalaman dalam bidang tersebut. Dengan memeriksa permukaan leher rahim, dokter akan menentukan penyebab abnormalitas dari sel-sel leher rahims seperti yang dinyatakan dalam pemeriksaan ‘Pap Smear’. Cara pemeriksaan kolposkopi adalah sebagai berikut: dokter akan memasukkan suatu cairan kedalam vagina dan memberi warna saluran leher rahims dengan suatu cairan yang membuat permukaan leher rahim yang mengandung sel-sel yang abnormal terwarnai.. Kemudian dokter akan melihat kedalam saluran leher rahim melalui sebuah alat yang disebut kolposkop. Kolposkop adalah suatu alat semacam mikroskop binocular yang mempergunakan sinar yang kuat dengan pembesaran yang tinggi.
Jika area yang abnormal sudah terlokalisasi, dokter akan mengambil sampel pada jaringan tersebut (melakukan biopsi) untuk kemudian dikirim ke lab guna pemeriksaan yang mendetail dan akurat. Pengobatan akan sangat tergantung sekali pada hasil pemeriksaan kolposkopi anda.

Bagaimanakah dengan aktifitas seksual anda?
Pada tahap ini, anda tidak perlu kuatir dengan aktifitas seksual anda. Anda tidak perlu absen melakukan aktifitas seksual hanya karena pemeriksaan ‘Pap Smear’ anda positip, karena keadaan kanker atau pre-kanker yang anda derita tidak mungkin ditularkan kepada suami anda. Tetapi jika sedang dalam pengobatan penyembuhan, sebaiknya tanyakanlah kepada dokter anda kapan anda dapat melakukan hubungan sanggama lagi dan seberapa seringnya hubungan tersebut.

Perlukah dilakukan pemeriksaan lanjutan sesudah selesainya pengobatan?
Pemeriksaan lanjutan sesudah selesainya masa pengobatan adalah mutlak diperlukan untuk mendapatkan kepastian bahwa area yang telah diobati telah sembuh sama sekali. Biarpun metode pengobatan yang anda dapatkan sangat efektif, sel-sel yang abnormal kadang-kadang dapat kambuh lagi, bahkan dapat berkembang dengan derajat keparahan yang lebih tinggi. Jadi deteksi dini adalah hal yang sangat esensial sekali. Selama dua tahun pertama masa pengobatan anda, anda disarankan untuk menjalani pemeriksaan ‘Pap Smear’ setiap tiga bulan atau enam bulan sekali. Jika setelah tiga kali pemeriksaan berturut-turut hasil ‘Pap Smear’ anda normal, ini berarti anda telah dapat dinyatakan sembuh, dan anda dapat melakukan pemeriksaan ‘Pap Smear’ tersebut setiap tahun sekali secara kontinyu.

Di tulis oleh
Yohanes Riono

Author: admin
Thursday, December 24th, 2009

availaall-kecil3Pantiliner (warna hijau), Harga Rp. 28.000,- isi 20 lembar / bungkus

Day Use (warna biru) Pembalut untuk siang hari, Harga Rp.32.000,- isi 10 lembar / bungkus

Night Use (warna pink), Pembalut untuk malam hari Harga Rp.35.000,- isi 10 lembar / bungkus

Untuk order ke : Asya Asyari

Handphone      : 0813-80852337, 021-99799397, 0814-10054440

email                  : asya_asyari16@yahoo.com , asya@availsehat.com

Note :

Harga di luar ongkos kirim ! Pembayaran melalui transfer Bank BCA dan Mandiri, no rekening di SMS setelah anda order.

Author: admin
Saturday, October 24th, 2009
  • Menurut Yayasan Kanker Indonesia, saat ini penyakit kanker leher rahim menyebab kan korban meninggal sedikit nya 200.000 wanita pertahun. ( www.cehahkankerserviks.org )
  • Setiap tahun nya lebih dari 8.000 wanita di Indonesia meninggal akibat kanker mulut rahim ( kanker serviks ).( setiap 1 jam 1 wanita di Indonesia meninggal dunia).
  • Sebanyak 52 juta dari sekitar 115 juta perempuan Indonesia berisiko terkena kanker rahim (serviks ) karena berbagai alasan, kta dr. Djemi, SPOG dalam seminar “Deteksi Dini Kanker Rahim & Payudara pada Wanita” di Palu, Maret 2007.( kutipan harian Analisa, minggu 25-03-2007 ).
  • Jika seorang mulai terjangkit infeksi vagina sejak usia 20 tahun, maka sedikit nya 6 tahun hidup nya akan di habis kan hanya untuk pengobatan dan perawatan infeksi.
  • Banyak wanita terjangkit infeksi vagina di sebabkan oleh pemakaian pembalut yang kurang berkualitas.
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes